Oleh: Ir. R. Haidar Alwi, MT (Pemikir Bangsa/Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB)
KEBERHASILAN Polri dalam mengungkap jaringan narkoba sejak kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar soal jumlah penangkapan, banyaknya tersangka, atau besarnya barang bukti yang disita.
Di balik setiap operasi yang berhasil, ada masa depan generasi muda yang terselamatkan, ada keluarga yang terhindar dari kehancuran, dan ada ketahanan sosial bangsa yang tetap terjaga dari ancaman senyap dengan daya rusak luar biasa.
Karena itu, pemberantasan narkoba harus dipahami sebagai kerja strategis Polri dalam menjaga keberlanjutan Indonesia.
Ancaman narkoba saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Jaringan kejahatan bergerak lintas daerah, lintas provinsi, hingga lintas negara. Mereka memanfaatkan jalur laut, pelabuhan, jasa ekspedisi, transaksi digital, hingga laboratorium tersembunyi.
Dalam situasi seperti ini, keberhasilan pengungkapan kasus narkoba bukan hanya ukuran penegakan hukum, tetapi juga cerminan kemampuan negara membaca ancaman dan bertindak cepat sebelum kerusakan meluas ke tengah masyarakat.
Capaian Polri dalam pemberantasan narkoba harus dimaknai lebih luas daripada sekadar keberhasilan operasional. Yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah kualitas manusia Indonesia di masa depan.
“Pemberantasan narkoba adalah perlindungan terhadap masa depan. Negara yang mampu menggagalkan peredaran narkotika sebelum masuk ke masyarakat bukan hanya sedang menegakkan hukum, tetapi sedang memastikan bangsa ini tidak kehilangan generasi terbaiknya”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Polri tidak cukup dilihat dari banyaknya tersangka yang ditangkap. Ukuran sesungguhnya terletak pada seberapa besar kerusakan sosial yang berhasil dicegah. Dalam kerangka itu, data tahunan pengungkapan narkoba harus dibaca sebagai indikator bahwa negara sedang menahan ancaman besar sebelum berubah menjadi bencana nasional.
Skala Pengungkapan yang Menunjukkan Polri Sedang Menahan Bencana.
Sejak dilantik pada 27 Januari 2021, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin institusi yang terus memperlihatkan penguatan dalam pemberantasan narkoba.
Pada 2021, Polri mengungkap 19.229 kasus, mengamankan 24.878 tersangka, menyita sabu 7.696 kilogram, ganja 2.100 kilogram, heroin 7,3 kilogram, tembakau gorila 34,3 kilogram, dan 239.277 butir ekstasi. Nilai barang bukti saat itu diperkirakan mencapai Rp11,66 triliun, dengan klaim penyelamatan sekitar 39,24 juta jiwa dari ancaman narkoba.
Pada 2022, Polri menyelesaikan 33.169 perkara narkoba dengan nilai barang bukti sekitar Rp11,02 triliun. Dalam paparan resmi, barang bukti yang diungkap mencakup 78,2 ton ganja, 416.100 batang pohon ganja, 6,3 ton sabu, 55 kilogram kokain, 0,26 kilogram heroin, 27 kilogram tembakau gorila, dan 1 juta butir ekstasi. Dari pengungkapan tersebut, sekitar 104,4 juta jiwa disebut berhasil diselamatkan dari potensi penyalahgunaan narkoba.
Pada 2023, skala pengungkapan tetap besar. Polri menyebut berhasil mengungkap sekitar 39 ribu kasus narkoba, menyita barang bukti senilai Rp12,8 triliun, serta menyelamatkan 35,7 juta jiwa. Rincian yang diumumkan antara lain 7,5 ton ganja, 22.029 batang pohon ganja, 11,5 kilogram kokain, 1,5 juta butir ekstasi, 6,1 ton sabu, dan 105 kilogram tembakau gorila. Selain penindakan lapangan, Polri juga melakukan pelacakan aset hasil kejahatan narkoba dalam jumlah besar.
Pada 2024, Polri mencatat 42.824 kasus yang diungkap dan 36.174 perkara yang diselesaikan. Nilai barang bukti diperkirakan mencapai Rp8,6 triliun, dengan klaim penyelamatan 40,4 juta jiwa.
Di tahun yang sama (2024), Polri juga membongkar laboratorium narkoba terselubung di Jawa Barat, jaringan internasional Afghanistan-Aceh-Jakarta dengan 389 kilogram sabu, serta laboratorium narkoba di Bali yang menunjukkan bahwa ancaman narkoba telah bergerak dengan metode yang semakin canggih.
Pada 2025, skala pengungkapan mencapai level yang sangat besar. Polri mencatat 48.592 kasus, 64.055 orang diamankan, total barang bukti 590 ton, dengan nilai sekitar Rp41 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan narkoba tidak berjalan stagnan, tetapi meningkat dalam daya jangkau dan kapasitas penindakan.
Sementara pada 2026 hingga April, pengungkapan masih terus berjalan melalui operasi-operasi wilayah, termasuk penyitaan 67 kilogram sabu di Merak, pengungkapan jaringan di Bali, serta penindakan di berbagai daerah lain.
βKetika angka pengungkapan meningkat secara konsisten, itu menandakan negara tidak sedang diam. Sistem deteksi, pemetaan ancaman, dan tindakan lapangan bekerja semakin efektif. Dalam isu narkoba, keterlambatan satu langkah saja bisa berarti ribuan anak muda terseret ke jurang kerusakan”
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa data tahunan bukan sekadar statistik institusional. Di balik angka-angka itu terdapat fakta bahwa polri terus menahan arus peredaran narkoba yang setiap saat berusaha menembus kehidupan masyarakat. Karena itu, pembahasan tidak cukup berhenti pada jumlah kasus, tetapi harus masuk pada nilai penyelamatan yang sesungguhnya.
Nilai Keberhasilan yang Tidak Bisa Ditakar dengan Rupiah.
Kalau dilihat dari data resmi yang bisa diverifikasi, gambaran penyelamatan generasi itu sangat besar. Polri pada 2021 berhasil menyelamatkan 39,24 juta jiwa, pada 2022 sekitar 104,4 juta jiwa, pada 2023 35,7 juta jiwa, dan pada 2024 40,4 juta jiwa. Jika empat angka ini dijumlahkan, hasilnya sekitar 219,74 juta jiwa yang menurut perhitungan resmi Polri terselamatkan dari peredaran gelap narkoba.
Secara nilai ekonomi, angka minimum yang aman dipakai dari laporan resmi berada di kisaran Rp11,66 triliun pada 2021, Rp11,02 triliun pada 2022, Rp12,8 triliun pada 2023, Rp8,6 triliun pada 2024, dan Rp41 triliun pada laporan penindakan setahun terakhir.
Secara akumulatif minimum, nilainya sudah berada di kisaran Rp85 triliun lebih. Namun angka sebesar itu tetap belum mampu menggambarkan nilai sesungguhnya, karena yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi kualitas generasi bangsa.
Rakyat perlu membayangkan satu hal sederhana: jika ratusan ton narkoba itu lolos ke pasar gelap, berapa banyak pelajar yang terjerumus, berapa banyak keluarga yang hancur, berapa besar biaya kesehatan yang membengkak, berapa luas kriminalitas yang ikut tumbuh, dan berapa banyak masa depan yang runtuh sebelum sempat berkembang. Di titik ini, nilai keberhasilan Polri jelas melebihi seluruh angka materi yang bisa dicatat dalam laporan tahunan.
βNilai keberhasilan Polri dalam pemberantasan narkoba tidak bisa diukur dengan rupiah semata, karena yang diselamatkan adalah kualitas manusia. Uang bisa dihitung, tetapi generasi yang tidak hancur akibat narkoba tidak punya harga pasar”
Pandangan itu menempatkan pemberantasan narkoba sebagai investasi sosial jangka panjang. Ketika ancaman dihentikan hari ini, negara sedang mengurangi beban kriminalitas, kerusakan kesehatan publik, dan kehancuran keluarga pada masa depan. Dalam konteks itulah apresiasi terhadap Polri dan kepemimpinan Kapolri menjadi penting untuk ditegaskan.
Apresiasi untuk Polri dan Kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Keberhasilan ini layak diapresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan seluruh jajaran Polri, mulai dari Bareskrim, Polda, Polres, hingga personel lapangan yang bekerja di garis depan.
Pada 29 Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, untuk memusnahkan 214,84 ton barang bukti narkoba senilai Rp29,37 triliun bersama Kapolri. Kehadiran Presiden dalam momen tersebut menunjukkan bahwa perang melawan narkoba adalah agenda strategis negara.
Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, penanganan narkoba terlihat semakin terukur, sistematis, dan berorientasi pada keselamatan publik.
Peningkatan kapasitas pengungkapan dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa institusi Polri terus bergerak menyesuaikan diri dengan pola kejahatan yang semakin kompleks. Ini bukan sekadar keberhasilan administratif, melainkan keberhasilan menjaga kehidupan masyarakat dari ancaman yang merusak dari dalam.
Polri adalah institusi strategis dalam menjaga keamanan nasional dan melindungi masa depan generasi bangsa. Pernyataan ini berangkat dari kenyataan bahwa bangsa yang gagal melindungi anak mudanya dari narkoba sedang membiarkan masa depannya runtuh secara perlahan.
Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan seluruh jajaran Polri. Keberhasilan ini bukan hanya prestasi institusi, tetapi bentuk nyata penyelamatan bangsa, karena setiap pengungkapan narkoba berarti ada generasi yang berhasil dijauhkan dari kehancuran.
Jakarta, 12 April 2026






